Iklan Mudah Percuma @ Peng-u.Com

Pengiklanan Percuma. Cari kerja kosong, peluang perniagaan, sewa bilik, kereta second hand untuk dijual dan sebagainya di Peng-u.Com

Iklan Mudah Percuma @ Peng-u.Com

One time email verification. Isi email anda di borang ini dan klik link dalam email anda untuk verify alamat email anda.

Kemudian anda boleh buat post iklan di sini dengan segera. Mudah dan Percuma! Tanpa had pada bila-bila masa dan anda boleh edit dan delete iklan anda dengan mudah.


Sumayyah Wanita dalam perjuangan Islam

Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughiroh. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekkah sehingga tidak ada kabilah yang dapat membela, menolak dan mencegah kezaliman atas dirinya, karena dia hidup sebatang kara. Posisinya menjadi sulit dibawah naungan aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Huzaifah. Dia akhirnya dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah, tokoh yang kita bicarakan ini. Beliau hidup bersamanya dalam suasana yang tenteram. Tidak berselang lama dari pernikahan tersebut, merekapun dikaruniai dua orang anak, yaitu ‘Ammar dan Ubaidullah

Tatkala ‘Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Maka berfikirlah ‘Ammar bin Yasir sebagaimana yang difikirkan oleh penduduk Mekkah, sehingga kesungguhan beliau di dalam berfikir dan lurusnya fitrah beliau, menggiringnya untuk memeluk Dienul Islam.

‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya.

Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulai sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena ‘Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga orang-orang kafir menyikapinya dengan menentang dan memusuhi mereka.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka. Mereka memaksa dengan cara menyeret mereka ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan diatas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir, ‘Ammar dan Bilal.

Suatu ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah tersiksa secara kejam, maka beliau menengadahkan tangannya ke langit dan berseru :
"Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga"

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Dia mengulang-ulang dengan berani: "Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar".

Sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang sepele dalam rangka memperjuangkan aqidahnya. Di hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para Thaghut yang zhalim, yang mana mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya. Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala para Thaghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah maka musuh Allah, Abu jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkannya sangkur yang berada dalam genggamannya ke tubuhnya. Maka terbanglah nyawa beliau dari raganya yang beriman dan bersih. Dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh yang baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, yang mana beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki, dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabb-nya. "Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan".

(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)

sumber: muslimah.blogsome.com

Comments: Publish Date: 1st Jul 2009

Kisah Ummu Sulaim Al Ghuma Idha

Ummu Sulaim, sifatnya tegas mengisahkan kejayaan seorang ibu dalam mendidik anak. Satu garis kebijaksanaan dan kesabaran dirinya menjadi seorang isteri pilihan yang terbaik.menyerahkan ketetapan dan pengabdian yang teguh kepada dasar agama Allah s.w.t untuk mendapatkan jannah (syurga).



Namanya Ghumaidha binti Maihan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundab bin Amin bin Ghunam bin Adi bin Najar Al Anshari Al Khazraji. Pada masa jahiliah dia menikah dengan Malik bin Nadhar dan melahirkan seorang anak yang bernama Anas bin Malik. Dia masuk islam bersama para assabiqunal awwalun (golongan pertama masuk islam ) dari golongan Ansar.

Ketika Ummu Sulaim telah beriman kepada Allah s.w.t *) dan Rasullulah s.a.w **) datanglah Abu Anas (Malik) dan bertanya; Apakah engkau telah murtad dari agamamu?” Ummu Sulaim menjawab,”Bahkan aku telah bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”.

Kemudian Ummu Sulaim r.a menyuruh dan menuntun anaknya Anas,”Wahai anakku, ucapkanlah la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah”. Anas mengiyakan dan mau mengucapkanya. Abu Anas (Malik) berkata kepada Ummu Sulaim r.a,” Janganlah kau merosak dan mempengaruhi anakku!” Ummu Sulaim menjawab, “ Aku tidak akan pernah merosakkanya”.

Malik keluar dengan menahan kemarahan. Dia pergi ke Syam membawa kemarahan. Di tengah jalan dia bertemu dengan musuhnya. Allah s.w.t menetapkan takdirnya. Di tangan musuh, dia menemui ajal pada saat jiwa dan hatinya bergelora marah.

Mendengar khabar suaminya meninggal, Ummu Sulaim berkata,”Saya tidak akan menahan Anas anakku sehingga ia berhenti sendiri (menangis ) dan aku tidak akan menikah sampai Anas menyuruhku”.

Ummu Sulaim pergi menemui Rasullulah s.a.w. Dengan rasa malu ia menyerahkan buah hatinya Anas bin Malik kepada Rasullulah s.a.w agar dijadikan pembantu Rasulullah s.a.w. Dengan harapan anaknya terbimbing dengan berbagai ajaran kebaikan. Rasullulah s.a.w menerimanya. Dan sejuklah hati dan perasaan Ummu Sulaim r.a.

Ketika itu, orang ramai mengatakan Anas bin Malik dan ibunya dengan pujian dan bangga. Hingga seorang yang bernama Abu Thalhah menyimpan rasa minat di hati dan kagum tersendiri terhadap Ummu Sulaim r.a. Datanglah ia kepada Ummu Sulaim untuk melamarnya. Ummu Sulaim r.a menolaknya kerana Abu Thalhah pada waktu itu masih musyrik (kafir). Ummu Sulaim r.a kemudian berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah s.w.t. Jika engkau mau mengikutiku, maka aku akan menikah denganmu”. Abu Thalhah berkata” Aku beriman kepada sebagaimana engkau beriman” Maka menikahlah Ummu Sulaim r.a dengan Abu Thalhah dengan mahar (mas kawin) keislaman Abu Thalhah.

Telah diriwayatkan oleh Sulaiman bin Mughirah Tsabit r.a telah bercerita kepada kami dari Anas r.a, ia berkata,”Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim r.a , kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya tidak sepatutnya aku menikah dengan seorang musyrik (kafir). Tidakkah engkau ketahui, wahai Abu Thalhah. Bahwa tuhan kalian diperbuat oleh keluarga fulan. Dan sesungguhnya jika engkau membakarnya pasti akan terbakar.”Anas r.a berkata” Maka Abu Thalhah pergi. Dalam hatinya ia membenarkan kata-kata Ummu Sulaim r.a. Datanglah ia kepada Ummu Sulaim r.a dan berkata,” Apa yang telah engkau tawarkan kepadaku telah aku terima.” Anas berkata ,“ Tiada mahar baginya (mas kahwin), kecuali dengan masuk islamnya Abu Thalhah”.

Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim r.a dengan mahar (mas kahwin) masuk islam. Ummu Sulaim r.a telah masuk islam sebelum Abu Thalhah. Kemudian Abu Thalhah melamarnya, maka Ummu Sulaim r.a berkata,” Jika kamu masuk islam, maka aku mau menikah dengan mu”. Akhirnya Ummu Sulaim r.a menikah dengan Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl Al Anshari, dan mempunyai dua orang anak iaitu Abu Umair dan Abdullah. Ummu Sulaim r.a hidup dengan Abu Thalhah r.a sebagai suami isteri yang bernaung di bawah nilai-nilai keislaman yang rendang. Menikmati kehidupan dengan tenang dan penuh kebahagiaan

Ummu Sulaim r.a adalah pilihan seorang isteri yang memenuhi hak-hak suami dengan sebaik-baiknya. Dan ia contoh terbaik seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan
seorang dai’yah yang terbaik. Abu Thalhah mula memasuki madrasah imaniah melalui
isterinya. Sehingga ia boleh meminum air mata nubuwah yang menjadikannya setara dengan Ummu Sulaim r.a dalam hak kemuliaan.

Suatu saat Allah s.w.t berkehendak menguji kebahagiaanya dengan meninggalnya putera tercinta iaitu Abu Umair, kerana sakit kuat. Dia meninggal ketika Abu Thalhah r.a sedang keluar ke masjid. Kemudian Ummu Sulaim r.a menguruskan mayat anaknya dan berkata kepada anggota keluarganya,”Janganlah seorang pun mengabarkan kepada Abu Thalhah r.a tentang kematiannya”. Manakala Abu Thalhah r.a pulang, Ummu Sulaim r.a mempersiapkan makan malam. Juga mempersiapkan diri untuk melakukan kewajipan seorang isteri, hingga Abu Thalhah r.a menggaulinya (bersetubuh). Tatkala di akhir malam, maka berkatalah dia kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada seseorang mengirimkan barangnya kepada suatu keluarga, dan suatu saat mengambil kiriman tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”Abu Thalhah r.a menjawab,”Tentu saja tidak boleh”. Ummu Sulaim r.a berkata lagi,” Bagaimana jika orang itu merasa berat hati kerana kiriman yang diambil kembali oleh tuan empunya diri setelah dia dapat memanfaatkanya?”Abu Thalhah berkata,” Berarti ia tidak adil”. Kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya anakmu adalah kiriman dari Allah s.w.t. Dan Allah s.w.t telah mengambilnya. tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.

Keesokkan harinya Abu Thalhah r.a pergi menghadap Rasullualah s.a.w dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar kata-kata Abu Thalhah r.a Rasullulah s.a.w bersabda yang bermaksud: “semoga Allah s.w.t memberkati malam kalian berdua”. Terkabullah apa yang dikatakan daripada mulut Rasullulah s.a.w. Setelah kematian Abu Umair, Ummu Sulaim r.a mengandung dan melahirkan seorang bayi lelaki, Ummu Sulaim mengajak Anas bin Malik untuk membawa bayi tersebut kepada Rasullulah s.a.w , dan Anas berkata,”Wahai Rasullulah Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam”, kemudian Rasullulah s.a.w mengunyah kurma dan mentahniknya (belah mulut). Anas r.a berkata,” Berilah dia nama, wahai Rasullulah”. Rasullulah s.a.w berkata,”Namanya Abdullah”.

Ummu Sulaim r.a termasuk orang yang berlimpah kemuliaan. Dia terlibat dalam perang Uhud dan perang Hunain. Dari sana ada cerita yang mengisahkan tentang keberanianya dalam membela agama dan kebencianya terhadap orang-orang kafir. Ummu Sulaim r.a membawa pisau besar dan berkata kepada Rasullulah s.a.w, “Wahai Rasullulah, jika ada orang musyrik mendekatiku, maka aku akan merobek perutnya dengan pisau ini”.


Ummu Sulaim r.a juga memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasullulah s.a.w. Rasullulah s.a.w sangat menyayanginya. Rasullulah s.a.w tidak pernah masuk selain rumah Ummu Sulaim r.a. Rasullulah s.a.w juga mengabarkan kabar gembira kepada Ummu Sulaim r.a, bahawa dia termasuk ahli jannah (penduduk syurga). Tsabit meriwayatkan dari Anas r.a, bahawa Rasullulah s.a.w bersabda, “Aku masuk syurga, tiba-tiba aku melihat Al Ghumaidah binti Maihan”.

Telah sempurnalah kebahagiaan Ummu Sulaim r.a. Memang dia berhak mendapat itu semua, kerana ketaatanya, kesabaranya, seorang dai’yah yang bijaksana, seorang pendidik yang baik. Dia telah memasukkan anaknya ke madrasah nubuwah sejak usia sepuluh tahun. Telah mendidik Abdullah bin Abu Thalhah menghafal Al Quran sejak usia tujuh tahun. Dia meriwayatkan hadis sebanyak 14 hadis sohih yang telah disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Satu hadis menyendiri dalam periwayatanya dan satu hadis Muslim hanya di riwayatkan oleh iman Muslim. Sungguh sangat agung amalan Ummu Sulaim r.a.

Ketegasan dan kesabaran daripada hamba Allah yang harus diteladani. Keberanian dan kecerdasanya selalu memberi sokongan kepada suami sehingga menyejukkan setiap pandangan. Membendung emosi , jiwanya dan jiwa si suami demi seutas erti pasrah kepada garis takdir. Semoga kami boleh mengikuti jejakmu…….ALLAHUA’LAM

Rujukkan:
-Al Ishbah Fii Tamyiizis Shahabah
-Siyar A’lamin Nubala’
-Sahih Muslim
-Sahih Bukhari
-*)Subhanahu wata’ala
-**)Sallallah ‘alaihi wasal lam
Oleh:Wan Atiqah binti Wan Nasir
Sumber: http://anjungrahmat.blogspot.com/
Comments: Publish Date: 1st Jul 2009


  Tajuk Iklan Kategori Tarikh Hits
Iklan Terbaru

Terkini Dilihat

Iklan Popular

 

( 4 ) Peng-u.Com tidak bertanggungjawab atas kehilangan atau kerosakan disebabkan oleh penggunaan maklumat dan iklan dalam website ini.
© 2009 All rights reserved. Iklan Mudah Percuma @ Peng-u.Com