One time email verification. Isi email anda di borang ini dan klik link dalam email anda untuk verify alamat email anda.
Kemudian anda boleh buat post iklan di sini dengan segera. Mudah dan Percuma! Tanpa had pada bila-bila masa dan anda boleh edit dan delete iklan anda dengan mudah.
Dialah Sumayyah binti Khayyat,
hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughiroh. Beliau dinikahi oleh
Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekkah sehingga tidak
ada kabilah yang dapat membela, menolak dan mencegah kezaliman atas
dirinya, karena dia hidup sebatang kara. Posisinya menjadi sulit
dibawah naungan aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah.
Begitulah
Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindungannya kepada Bani
Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Huzaifah. Dia akhirnya
dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah, tokoh yang kita
bicarakan ini. Beliau hidup bersamanya dalam suasana yang tenteram.
Tidak berselang lama dari pernikahan tersebut, merekapun dikaruniai dua
orang anak, yaitu ‘Ammar dan Ubaidullah
Tatkala ‘Ammar
hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki beliau
mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Maka berfikirlah ‘Ammar
bin Yasir sebagaimana yang difikirkan oleh penduduk Mekkah, sehingga
kesungguhan beliau di dalam berfikir dan lurusnya fitrah beliau,
menggiringnya untuk memeluk Dienul Islam.
‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya.
Beliau
menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian menawarkan kepada
keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan
Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut dan bahkan
mengumumkan keislamannya sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang
masuk Islam.
Dari sinilah dimulai sejarah yang agung bagi
Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar
terbit untuk pertama kalinya.
Bani Makhzum mengetahui akan
hal itu, karena ‘Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka
telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga
orang-orang kafir menyikapinya dengan menentang dan memusuhi mereka.
Bani
Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan
bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka. Mereka
memaksa dengan cara menyeret mereka ke padang pasir tatkala cuaca
sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat
dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan
diatas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar
rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau
ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir,
‘Ammar dan Bilal.
Suatu ketika Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah
tersiksa secara kejam, maka beliau menengadahkan tangannya ke langit
dan berseru : "Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga"
Sumayyah
mendengar seruan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka beliau
bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Dia
mengulang-ulang dengan berani: "Aku bersaksi bahwa engkau adalah
Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar".
Sehingga
bagi beliau kematian adalah sesuatu yang sepele dalam rangka
memperjuangkan aqidahnya. Di hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah
‘Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan
oleh para Thaghut yang zhalim, yang mana mereka tidak kuasa menggeser
keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.
Sementara
Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia
dengar dari istrinya. Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk
bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan
oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Tatkala para
Thaghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa
diulang-ulang oleh Sumayyah maka musuh Allah, Abu jahal melampiaskan
keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkannya sangkur yang berada
dalam genggamannya ke tubuhnya. Maka terbanglah nyawa beliau dari
raganya yang beriman dan bersih. Dan beliau adalah wanita pertama yang
syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh yang baik
dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, yang mana beliau
telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki, dan menganggap remeh
kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan
nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabb-nya. "Dan
mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan".
(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)
Ummu Sulaim, sifatnya tegas mengisahkan kejayaan seorang ibu dalam
mendidik anak. Satu garis kebijaksanaan dan kesabaran dirinya menjadi
seorang isteri pilihan yang terbaik.menyerahkan ketetapan dan
pengabdian yang teguh kepada dasar agama Allah s.w.t untuk mendapatkan
jannah (syurga).
Namanya Ghumaidha binti Maihan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundab
bin Amin bin Ghunam bin Adi bin Najar Al Anshari Al Khazraji. Pada masa
jahiliah dia menikah dengan Malik bin Nadhar dan melahirkan seorang
anak yang bernama Anas bin Malik. Dia masuk islam bersama para
assabiqunal awwalun (golongan pertama masuk islam ) dari golongan
Ansar.
Ketika Ummu Sulaim telah beriman kepada Allah s.w.t *) dan Rasullulah
s.a.w **) datanglah Abu Anas (Malik) dan bertanya; Apakah engkau telah
murtad dari agamamu?” Ummu Sulaim menjawab,”Bahkan aku telah bersaksi
bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah
Rasul Allah”.
Kemudian Ummu Sulaim r.a menyuruh dan menuntun anaknya Anas,”Wahai
anakku, ucapkanlah la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad
rasulullah”. Anas mengiyakan dan mau mengucapkanya. Abu Anas (Malik)
berkata kepada Ummu Sulaim r.a,” Janganlah kau merosak dan mempengaruhi
anakku!” Ummu Sulaim menjawab, “ Aku tidak akan pernah merosakkanya”.
Malik keluar dengan menahan kemarahan. Dia pergi ke Syam membawa
kemarahan. Di tengah jalan dia bertemu dengan musuhnya. Allah s.w.t
menetapkan takdirnya. Di tangan musuh, dia menemui ajal pada saat jiwa
dan hatinya bergelora marah.
Mendengar khabar suaminya meninggal, Ummu Sulaim berkata,”Saya tidak
akan menahan Anas anakku sehingga ia berhenti sendiri (menangis ) dan
aku tidak akan menikah sampai Anas menyuruhku”.
Ummu Sulaim pergi menemui Rasullulah s.a.w. Dengan rasa malu ia
menyerahkan buah hatinya Anas bin Malik kepada Rasullulah s.a.w agar
dijadikan pembantu Rasulullah s.a.w. Dengan harapan anaknya terbimbing
dengan berbagai ajaran kebaikan. Rasullulah s.a.w menerimanya. Dan
sejuklah hati dan perasaan Ummu Sulaim r.a.
Ketika itu, orang ramai mengatakan Anas bin Malik dan ibunya dengan
pujian dan bangga. Hingga seorang yang bernama Abu Thalhah menyimpan
rasa minat di hati dan kagum tersendiri terhadap Ummu Sulaim r.a.
Datanglah ia kepada Ummu Sulaim untuk melamarnya. Ummu Sulaim r.a
menolaknya kerana Abu Thalhah pada waktu itu masih musyrik (kafir).
Ummu Sulaim r.a kemudian berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman
kepada Allah s.w.t. Jika engkau mau mengikutiku, maka aku akan menikah
denganmu”. Abu Thalhah berkata” Aku beriman kepada sebagaimana engkau
beriman” Maka menikahlah Ummu Sulaim r.a dengan Abu Thalhah dengan
mahar (mas kawin) keislaman Abu Thalhah.
Telah diriwayatkan oleh Sulaiman bin Mughirah Tsabit r.a telah
bercerita kepada kami dari Anas r.a, ia berkata,”Abu Thalhah meminang
Ummu Sulaim r.a , kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya tidak
sepatutnya aku menikah dengan seorang musyrik (kafir). Tidakkah engkau
ketahui, wahai Abu Thalhah. Bahwa tuhan kalian diperbuat oleh keluarga
fulan. Dan sesungguhnya jika engkau membakarnya pasti akan
terbakar.”Anas r.a berkata” Maka Abu Thalhah pergi. Dalam hatinya ia
membenarkan kata-kata Ummu Sulaim r.a. Datanglah ia kepada Ummu Sulaim
r.a dan berkata,” Apa yang telah engkau tawarkan kepadaku telah aku
terima.” Anas berkata ,“ Tiada mahar baginya (mas kahwin), kecuali
dengan masuk islamnya Abu Thalhah”.
Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim r.a dengan mahar (mas kahwin) masuk
islam. Ummu Sulaim r.a telah masuk islam sebelum Abu Thalhah. Kemudian
Abu Thalhah melamarnya, maka Ummu Sulaim r.a berkata,” Jika kamu masuk
islam, maka aku mau menikah dengan mu”. Akhirnya Ummu Sulaim r.a
menikah dengan Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl Al Anshari, dan mempunyai
dua orang anak iaitu Abu Umair dan Abdullah. Ummu Sulaim r.a hidup
dengan Abu Thalhah r.a sebagai suami isteri yang bernaung di bawah
nilai-nilai keislaman yang rendang. Menikmati kehidupan dengan tenang
dan penuh kebahagiaan
Ummu Sulaim r.a adalah pilihan seorang isteri yang memenuhi hak-hak
suami dengan sebaik-baiknya. Dan ia contoh terbaik seorang ibu, seorang
pendidik yang utama dan
seorang dai’yah yang terbaik. Abu Thalhah mula memasuki madrasah imaniah melalui
isterinya. Sehingga ia boleh meminum air mata nubuwah yang menjadikannya setara dengan Ummu Sulaim r.a dalam hak kemuliaan.
Suatu saat Allah s.w.t berkehendak menguji kebahagiaanya dengan
meninggalnya putera tercinta iaitu Abu Umair, kerana sakit kuat. Dia
meninggal ketika Abu Thalhah r.a sedang keluar ke masjid. Kemudian Ummu
Sulaim r.a menguruskan mayat anaknya dan berkata kepada anggota
keluarganya,”Janganlah seorang pun mengabarkan kepada Abu Thalhah r.a
tentang kematiannya”. Manakala Abu Thalhah r.a pulang, Ummu Sulaim r.a
mempersiapkan makan malam. Juga mempersiapkan diri untuk melakukan
kewajipan seorang isteri, hingga Abu Thalhah r.a menggaulinya
(bersetubuh). Tatkala di akhir malam, maka berkatalah dia kepada
suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada
seseorang mengirimkan barangnya kepada suatu keluarga, dan suatu saat
mengambil kiriman tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk
menolaknya?”Abu Thalhah r.a menjawab,”Tentu saja tidak boleh”. Ummu
Sulaim r.a berkata lagi,” Bagaimana jika orang itu merasa berat hati
kerana kiriman yang diambil kembali oleh tuan empunya diri setelah dia
dapat memanfaatkanya?”Abu Thalhah berkata,” Berarti ia tidak adil”.
Kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya anakmu adalah kiriman
dari Allah s.w.t. Dan Allah s.w.t telah mengambilnya. tabahkanlah
hatimu dengan meninggalnya anakmu”.
Keesokkan harinya Abu Thalhah r.a pergi menghadap Rasullualah s.a.w dan
menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar kata-kata Abu Thalhah
r.a Rasullulah s.a.w bersabda yang bermaksud: “semoga Allah s.w.t
memberkati malam kalian berdua”. Terkabullah apa yang dikatakan
daripada mulut Rasullulah s.a.w. Setelah kematian Abu Umair, Ummu
Sulaim r.a mengandung dan melahirkan seorang bayi lelaki, Ummu Sulaim
mengajak Anas bin Malik untuk membawa bayi tersebut kepada Rasullulah
s.a.w , dan Anas berkata,”Wahai Rasullulah Ummu Sulaim telah melahirkan
tadi malam”, kemudian Rasullulah s.a.w mengunyah kurma dan mentahniknya
(belah mulut). Anas r.a berkata,” Berilah dia nama, wahai Rasullulah”.
Rasullulah s.a.w berkata,”Namanya Abdullah”.
Ummu Sulaim r.a termasuk orang yang berlimpah kemuliaan. Dia terlibat
dalam perang Uhud dan perang Hunain. Dari sana ada cerita yang
mengisahkan tentang keberanianya dalam membela agama dan kebencianya
terhadap orang-orang kafir. Ummu Sulaim r.a membawa pisau besar dan
berkata kepada Rasullulah s.a.w, “Wahai Rasullulah, jika ada orang
musyrik mendekatiku, maka aku akan merobek perutnya dengan pisau ini”.
Ummu Sulaim r.a juga memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasullulah
s.a.w. Rasullulah s.a.w sangat menyayanginya. Rasullulah s.a.w tidak
pernah masuk selain rumah Ummu Sulaim r.a. Rasullulah s.a.w juga
mengabarkan kabar gembira kepada Ummu Sulaim r.a, bahawa dia termasuk
ahli jannah (penduduk syurga). Tsabit meriwayatkan dari Anas r.a,
bahawa Rasullulah s.a.w bersabda, “Aku masuk syurga, tiba-tiba aku
melihat Al Ghumaidah binti Maihan”.
Telah sempurnalah kebahagiaan Ummu Sulaim r.a. Memang dia berhak
mendapat itu semua, kerana ketaatanya, kesabaranya, seorang dai’yah
yang bijaksana, seorang pendidik yang baik. Dia telah memasukkan
anaknya ke madrasah nubuwah sejak usia sepuluh tahun. Telah mendidik
Abdullah bin Abu Thalhah menghafal Al Quran sejak usia tujuh tahun. Dia
meriwayatkan hadis sebanyak 14 hadis sohih yang telah disepakati oleh
Bukhari dan Muslim. Satu hadis menyendiri dalam periwayatanya dan satu
hadis Muslim hanya di riwayatkan oleh iman Muslim. Sungguh sangat agung
amalan Ummu Sulaim r.a.
Ketegasan dan kesabaran daripada hamba Allah yang harus diteladani.
Keberanian dan kecerdasanya selalu memberi sokongan kepada suami
sehingga menyejukkan setiap pandangan. Membendung emosi , jiwanya dan
jiwa si suami demi seutas erti pasrah kepada garis takdir. Semoga kami
boleh mengikuti jejakmu…….ALLAHUA’LAM
Rujukkan:
-Al Ishbah Fii Tamyiizis Shahabah
-Siyar A’lamin Nubala’
-Sahih Muslim
-Sahih Bukhari
-*)Subhanahu wata’ala
-**)Sallallah ‘alaihi wasal lam
Oleh:Wan Atiqah binti Wan Nasir Sumber: http://anjungrahmat.blogspot.com/